Update Konflik Perbatasan Thailand-Kamboja: Berita Terbaru

V.Mondinion 101 views
Update Konflik Perbatasan Thailand-Kamboja: Berita Terbaru

Update Konflik Perbatasan Thailand-Kamboja: Berita Terbaru\n\nHei guys , pernah nggak sih kalian denger atau mikirin soal konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja? Ini bukan cuma sekadar berita \“panas\” hari ini atau kemarin lho, tapi ini adalah kisah panjang yang melibatkan sejarah, identitas, dan wilayah. Meskipun mungkin tidak selalu menjadi sorotan utama media massa internasional setiap harinya, ketegangan di perbatasan kedua negara ini, terutama yang berkaitan dengan sengketa lahan dan kepemilikan Kuil Preah Vihear, masih menjadi isu sensitif yang berpotensi memanas kapan saja. \n\nSebagai tetangga di kawasan Asia Tenggara, hubungan Thailand dan Kamboja itu ibarat roller coaster; kadang akur, kadang tegang. Konflik perbatasan ini punya akar yang dalam banget, yang bisa kita lacak hingga berabad-abad lamanya. Bukan cuma soal garis di peta, tapi juga soal warisan budaya, klaim kedaulatan, dan tentu saja, kebanggaan nasional. \n\nDalam artikel ini, kita akan coba bedah tuntas, santai tapi serius, apa sebenarnya yang jadi biang kerok konflik ini, gimana sih perjalanan sejarahnya sampai bisa serumit sekarang, dan apa saja upaya yang sudah dilakukan untuk mencapai perdamaian. Kita juga bakal ngintip dampak-dampak yang timbul, baik bagi masyarakat di perbatasan maupun stabilitas regional secara keseluruhan. Jadi, siap-siap ya, karena kita akan \“menyelami\” lebih dalam isu yang kompleks namun penting ini. Mari kita mulai perjalanan kita memahami lebih jauh tentang konflik perbatasan Thailand dan Kamboja , dan mencari tahu apa saja berita terbaru yang relevan dengan situasi yang terus berkembang ini. Penting banget buat kita semua untuk punya pemahaman yang utuh, biar nggak gampang termakan informasi simpang siur dan bisa melihat gambaran yang lebih besar dari dinamika hubungan dua negara serumpun ini.\n\n## Memahami Akar Sejarah Konflik Perbatasan Thailand dan Kamboja\n\nOke, guys , buat memahami konflik perbatasan Thailand dan Kamboja ini, kita harus mundur jauh ke belakang, menelusuri akar sejarah yang teramat dalam dan berkelok-kelok. Ini bukan cuma soal sengketa sepetak tanah atau beberapa kilometer persegi wilayah, tapi lebih pada warisan sejarah yang kompleks dan seringkali berlumur darah . Sejak zaman dahulu kala, wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Thailand dan Kamboja itu sudah punya sejarah interaksi yang intens. Kerajaan Khmer, yang dulu berkuasa dengan pusat di Angkor Wat, pernah menjadi kekuatan dominan yang melingkupi sebagian besar wilayah Asia Tenggara daratan, termasuk area yang sekarang jadi bagian dari Thailand. Namun, seiring berjalannya waktu, Kerajaan Siam (nama lama Thailand) bangkit dan menjadi kekuatan yang tak kalah besar, seringkali bersinggungan langsung dengan Kamboja, bahkan kerap kali mengklaim hegemoni atas wilayah tetangganya itu.\n\nTitik balik penting dalam sejarah demarkasi perbatasan ini datang ketika kekuatan kolonial Eropa, khususnya Prancis, mulai masuk dan menancapkan pengaruhnya di Asia Tenggara pada abad ke-19. Prancis menguasai Kamboja sebagai protektoratnya, dan dari situlah mulai muncul upaya untuk menarik garis perbatasan yang \“resmi\” antara Siam (yang berhasil mempertahankan kemerdekaannya dari kolonialisme Eropa) dan Kamboja di bawah protektorat Prancis. Sayangnya, proses demarkasi ini penuh dengan ketidaksepakatan dan ambigu, terutama di daerah pegunungan yang sulit diakses. Peta-peta yang dibuat pada masa itu seringkali tumpang tindih atau tidak jelas, meninggalkan \“bom waktu\” sengketa teritorial yang siap meledak di kemudian hari. Salah satu contoh paling ikonik dari ambiguitas ini adalah di sekitar Kuil Preah Vihear . Kuil kuno yang megah ini terletak di punggung pegunungan Dângrêk, sebuah lokasi strategis yang menawarkan pemandangan spektakuler. Secara historis dan budaya, Kuil Preah Vihear memiliki arsitektur Khmer yang khas dan sangat signifikan bagi Kamboja sebagai salah satu warisan paling berharga dari kejayaan Kerajaan Khmer.\n\nNamun, masalah muncul ketika Prancis dan Siam membuat peta yang dikenal sebagai \“Peta Lampiran 1\” pada tahun 1907. Peta ini menempatkan kuil tersebut di sisi Kamboja dari garis perbatasan, sesuai dengan prinsip watershed atau daerah aliran sungai yang dianggap sebagai batas alami. Thailand, pada awalnya, tidak secara eksplisit keberatan dengan peta ini. Namun, setelah Kamboja merdeka dari Prancis pada tahun 1953, dan dengan gelombang nasionalisme yang kuat di kedua negara, klaim atas kuil ini kembali mencuat. Thailand mulai berargumen bahwa peta tersebut tidak sah dan bahwa kuil itu sebenarnya berada di wilayahnya berdasarkan garis punggung bukit (watershed) yang sebenarnya. Ini memicu perselisihan besar yang akhirnya dibawa ke Mahkamah Internasional (International Court of Justice - ICJ) . Pada tahun 1962, ICJ memutuskan bahwa Kuil Preah Vihear adalah milik Kamboja, sebuah keputusan yang hingga kini masih menjadi sumber ketidakpuasan di kalangan nasionalis Thailand. Meskipun putusan ICJ itu spesifik tentang kuil, bukan seluruh wilayah di sekitarnya, banyak orang Thailand merasa bahwa keputusan itu adalah ketidakadilan historis. Perasaan ini, ditambah dengan klaim atas lahan di sekitar kuil, terus menjadi bahan bakar utama bagi ketegangan perbatasan. Jadi, bisa kita lihat, guys , bahwa konflik perbatasan ini adalah gabungan rumit antara warisan sejarah , peta kolonial yang ambigu , dan kebanggaan nasional yang sangat kuat di kedua belah pihak. Ini bukan perkara mudah untuk diselesaikan, karena menyentuh saraf-saraf paling sensitif dari identitas bangsa.\n\n## Momen-Momen Krusial: Eskalasi dan Bentrokan Perbatasan\n\nSetelah memahami akar sejarahnya, mari kita bahas momen-momen krusial ketika konflik perbatasan Thailand dan Kamboja benar-benar memanas dan berubah menjadi eskalasi serta bentrokan sengit . Meskipun sengketa atas Kuil Preah Vihear sudah diputuskan oleh ICJ pada 1962, keputusan itu tidak menghentikan ketegangan. Justru, isu ini kerap kali \“muncul ke permukaan\” lagi, terutama di tahun-tahun belakangan ini. Puncak ketegangan yang paling signifikan dalam sejarah modern terjadi antara tahun 2008 hingga 2011, setelah UNESCO mendaftarkan Kuil Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia Kamboja pada Juli 2008. Ini adalah momen yang membangkitkan gelombang nasionalisme di kedua negara, guys , dan sayangnya, berujung pada konfrontasi militer yang serius.\n\nKetika Kamboja berhasil mendaftarkan kuil tersebut, Thailand merasa bahwa langkah itu dilakukan tanpa persetujuan penuh dari mereka dan bahwa pendaftaran tersebut secara tidak langsung bisa memperkuat klaim Kamboja atas lahan di sekitar kuil, yang masih mereka sengketa. Nah, ini dia nih awal mula dari serangkaian bentrokan sengit di perbatasan. Pasukan militer dari kedua belah pihak ditempatkan di garis depan, dan bukan hanya tembakan peringatan, tapi juga baku tembak artileri dan mortir seringkali terjadi. Kejadian ini bukan cuma sekadar \“tembak-menembak\” biasa, lho. Ada laporan tentang puluhan korban jiwa dari kedua belah pihak, baik militer maupun warga sipil yang tinggal di daerah perbatasan. Ribuan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka, meninggalkan harta benda dan mata pencarian, demi menyelamatkan diri dari krisis kemanusiaan yang tiba-tiba terjadi. Bayangin aja, hidup di tengah ketidakpastian dan ketakutan akan serangan sewaktu-waktu. Itu pasti mengerikan banget, kan?\n\nSelain Preah Vihear, ada juga beberapa titik sengketa lain di sepanjang perbatasan, seperti Kuil Ta Muen (Ta Moan) dan Ta Krabey (Ta Krabei), yang juga menjadi lokasi pertempuran kecil tapi intens. Setiap bentrokan ini, tak peduli seberapa kecil skalanya, selalu memicu reaksi keras dari media massa dan politisi di kedua negara, memperkuat sentimen nasionalisme dan seringkali mempersulit upaya diplomatik untuk mencari solusi. Situasi menjadi sangat tidak stabil, di mana bahkan pernyataan atau tindakan kecil bisa memicu respons besar dari pihak lawan. Krisis perbatasan ini juga punya dampak ekonomi yang signifikan, karena aktivitas perdagangan dan pariwisata di daerah tersebut terhenti total. Warga sipil yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas lintas batas mendadak kehilangan sumber pendapatan. Ini menunjukkan betapa *serius*nya dampak dari bentrokan perbatasan ini, tidak hanya dari segi politik dan militer, tetapi juga dari segi kemanusiaan dan ekonomi.\n\nPada tahun 2011, situasi kembali memanas drastis dengan beberapa pertempuran besar yang melibatkan penggunaan artileri berat, menyebabkan kehancuran infrastruktur di kedua sisi perbatasan dan korban jiwa yang lebih banyak. Kejadian-kejadian ini menarik perhatian dunia, dan banyak negara serta organisasi internasional mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri. Momen-momen seperti ini menyoroti betapa rapuhnya perdamaian di kawasan perbatasan dan betapa cepatnya sengketa lahan bisa berubah menjadi konflik bersenjata yang menghancurkan. Ini adalah pelajaran pahit tentang pentingnya diplomasi dan penyelesaian damai atas setiap perselisihan, terutama yang memiliki akar sejarah yang begitu dalam dan emosional.\n\n## Upaya Diplomatik dan Peran Komunitas Internasional\n\nSetelah melihat betapa panasnya eskalasi dan bentrokan perbatasan antara Thailand dan Kamboja, tentunya kita bertanya-tanya, apa sih yang sudah dilakukan untuk mendinginkan situasi ini? Untungnya, guys , di tengah ketegangan militer, upaya diplomatik dan intervensi dari komunitas internasional tidak pernah berhenti. Ada kesadaran bahwa konflik bersenjata tidak akan menguntungkan siapa pun dalam jangka panjang. Sejak awal sengketa, sudah ada berbagai dialog bilateral yang dilakukan antara perwakilan kedua negara. Para menteri luar negeri, menteri pertahanan, hingga kepala pemerintahan sering bertemu untuk membahas masalah ini, meskipun hasilnya seringkali naik turun. Tujuannya adalah untuk menemukan titik temu, meredakan ketegangan, dan mencari solusi jangka panjang yang bisa diterima kedua belah pihak. Namun, seperti yang kita tahu, negosiasi semacam itu sangat kompleks, terutama ketika menyangkut masalah kedaulatan dan kebanggaan nasional yang sudah berakar kuat.\n\nDi sinilah peran ASEAN sebagai organisasi regional menjadi sangat krusial. ASEAN, yang bertujuan untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di Asia Tenggara, seringkali turun tangan sebagai mediator. Indonesia, sebagai salah satu anggota kunci ASEAN, bahkan pernah mengambil peran aktif dalam upaya mediasi ini, menawarkan jasa baiknya untuk memfasilitasi pertemuan antara pejabat Thailand dan Kamboja. ASEAN telah berulang kali menyerukan gencatan senjata dan mendesak kedua negara untuk menyelesaikan sengketa mereka secara damai melalui negosiasi. Mereka juga mengirimkan tim pengamat ke daerah perbatasan untuk memantau situasi dan memastikan gencatan senjata dipatuhi. Namun, efektifitas peran ASEAN seringkali terbatas oleh prinsip non-intervensi dalam urusan internal negara anggota, yang kadang membuat organisasi ini kesulitan untuk memberikan tekanan yang lebih besar. Meskipun demikian, kehadiran ASEAN setidaknya memberikan platform dan tekanan moral bagi kedua negara untuk terus berdialog dan tidak menyerah pada konflik bersenjata.\n\nSelain ASEAN, Mahkamah Internasional (ICJ) juga kembali memainkan perannya dalam mencoba mencari solusi damai . Setelah serangkaian bentrokan di tahun 2011, Kamboja kembali mengajukan permohonan ke ICJ, meminta interpretasi atas putusan tahun 1962 mengenai Kuil Preah Vihear. Pada tahun 2013, ICJ memberikan putusan interpretatif yang menegaskan bahwa seluruh punggung bukit di mana kuil itu berada, termasuk area di bawahnya, adalah wilayah Kamboja. Putusan ini diharapkan bisa membawa kejelasan, namun tetap menyisakan tantangan dalam demarkasi perbatasan yang sebenarnya di lapangan. Meskipun putusan ini disambut baik oleh Kamboja, Thailand tetap mempertahankan posisinya bahwa demarkasi perlu dilakukan secara menyeluruh dan adil. Namun, putusan ICJ ini setidaknya menjadi dasar hukum yang kuat untuk Kamboja dan juga memberikan kerangka bagi diskusi di masa depan.\n\nOrganisasi-organisasi internasional lainnya, seperti PBB , juga terus memantau situasi dan mendesak kedua negara untuk menahan diri. Para diplomat dari berbagai negara juga secara bilateral mendorong Thailand dan Kamboja untuk bernegosiasi. Semua upaya ini menunjukkan bahwa komunitas internasional tidak tinggal diam. Mereka mengakui bahwa konflik perbatasan ini bukan hanya masalah lokal, tetapi memiliki potensi untuk mengganggu stabilitas regional yang lebih luas. Melalui berbagai mekanisme, mulai dari dialog bilateral , mediasi regional , hingga penyelesaian hukum internasional , upaya terus dilakukan untuk mengarahkan kedua negara menuju perdamaian abadi . Meskipun kemajuan mungkin lambat dan terkadang frustrasi, penting untuk diingat bahwa setiap langkah diplomatik, sekecil apa pun, adalah bagian dari perjalanan panjang menuju resolusi yang langgeng. Itu menunjukkan komitmen untuk menghindari kekerasan dan mencari jalan keluar yang beradab dan berlandaskan hukum.\n\n## Dampak Konflik: Perekonomian, Masyarakat, dan Stabilitas Regional\n\nKetika kita bicara soal konflik perbatasan Thailand dan Kamboja , penting banget untuk tidak melupakan dampak riil yang ditimbulkannya. Ini bukan cuma soal politik dan militer, guys , tapi juga soal hidup banyak orang, perekonomian kedua negara, dan stabilitas regional yang lebih luas. Dampak paling langsung dan paling menyedihkan tentu saja adalah pada masyarakat di daerah perbatasan . Bayangin aja, mereka yang tinggal di desa-desa dekat garis sengketa harus hidup dalam ketakutan konstan. Ketika bentrokan terjadi, mereka adalah yang pertama kali terdampak, seringkali harus mengungsi dari rumah mereka, meninggalkan semua harta benda yang mereka miliki. Anak-anak terpaksa berhenti sekolah, mata pencarian hilang, dan trauma psikologis yang mendalam seringkali menghantui mereka. Banyak yang kehilangan sanak saudara, rumah hancur, dan masa depan menjadi tidak pasti. Ini adalah biaya kemanusiaan yang sangat besar, yang seringkali tidak terhitung dalam laporan berita harian.\n\nDari segi perekonomian , konflik ini juga memberikan pukulan telak. Daerah perbatasan seringkali menjadi jalur penting untuk perdagangan dan aktivitas ekonomi lintas batas. Ketika ketegangan memanas dan perbatasan ditutup, perdagangan terhenti , baik itu perdagangan resmi maupun informal yang menopang hidup banyak keluarga. Para petani tidak bisa menjual hasil panennya, pedagang kecil kehilangan pelanggannya, dan industri pariwisata yang sempat berkembang di sekitar situs-situs bersejarah seperti Preah Vihear mendadak mati suri. Investor pun menjadi ragu untuk menanamkan modal di wilayah yang tidak stabil. Infrastruktur, seperti jalan dan jembatan, yang bisa menunjang pembangunan ekonomi juga seringkali rusak atau terabaikan karena fokus dialihkan ke keamanan. Jadi, bisa kita lihat, kerugian ekonomi akibat konflik ini sangat besar, menghambat pertumbuhan dan pembangunan di kedua belah pihak. Ini memperparah kemiskinan dan menciptakan lingkaran setan ketidakpastian.\n\nLebih jauh lagi, konflik perbatasan ini juga memiliki implikasi serius terhadap stabilitas regional . Thailand dan Kamboja adalah dua anggota penting ASEAN . Prinsip utama ASEAN adalah menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan. Ketika dua anggotanya sendiri terlibat dalam konflik bersenjata, hal itu tentu saja mengancam kredibilitas dan efektifitas organisasi. Konflik ini bisa memecah belah solidaritas ASEAN, mengalihkan perhatian dari isu-isu regional penting lainnya, dan bahkan berpotensi menarik negara-negara lain untuk terlibat atau memihak, yang bisa memperparah situasi. Ini mengirimkan sinyal negatif ke komunitas internasional bahwa kawasan Asia Tenggara, yang seringkali dianggap sebagai \“zona damai\”, masih rentan terhadap konflik internal. Stabilitas kawasan adalah kunci untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bersama, dan setiap gejolak, seberapa pun kecilnya, bisa memiliki efek domino yang merugikan semua pihak.\n\nJadi, guys , dampaknya itu nggak main-main. Mulai dari penderitaan individu dan keluarga, kerugian ekonomi yang masif, hingga potensi destabilisasi seluruh kawasan. Ini semua menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan solusi damai dan permanen untuk konflik perbatasan Thailand dan Kamboja . Bukan cuma untuk Thailand dan Kamboja, tetapi juga untuk masa depan Asia Tenggara yang damai dan sejahtera. Setiap kali ketegangan muncul, kita harus ingat bahwa di balik berita utama, ada begitu banyak kisah pilu dan kerugian yang tak terhitung.\n\n## Kondisi Terkini dan Prospek Masa Depan Konflik Thailand-Kamboja\n\nSetelah menelusuri sejarah panjang, momen-momen panas, dan dampak-dampak yang ditimbulkan, sekarang mari kita bahas kondisi terkini dari konflik perbatasan Thailand-Kamboja dan bagaimana prospek masa depan untuk isu yang kompleks ini. Sejak putusan Mahkamah Internasional (ICJ) pada tahun 2013 yang mengklarifikasi status area sekitar Kuil Preah Vihear, tensi militer yang parah seperti di tahun 2008-2011 memang sudah jauh menurun. Kita tidak lagi mendengar laporan bentrokan bersenjata besar secara rutin, yang tentu saja merupakan kabar baik. Kedua negara seolah memasuki periode \“tenang\”, fokus pada dialog dan diplomasi sebagai jalur utama penyelesaian sengketa, meski prosesnya tidak selalu mulus dan seringkali membutuhkan kesabaran ekstra.\n\nNamun, bukan berarti masalahnya sudah selesai sepenuhnya, guys . Isu demarkasi perbatasan yang belum tuntas di beberapa titik, terutama di daerah-daerah yang rawan atau belum ada kesepakatan jelas, masih menjadi tantangan utama . Proses demarkasi ini melibatkan survei lapangan yang rumit, negosiasi yang alot, dan seringkali membutuhkan kompromi dari kedua belah pihak. Setiap jengkal tanah di perbatasan bisa memicu perdebatan sengit, karena menyangkut kedaulatan dan kebanggaan nasional yang sangat dijaga. Masing-masing negara memiliki interpretasi sendiri atas peta-peta lama dan perjanjian historis, yang semakin mempersulit proses ini. Jadi, meskipun situasi di permukaan terlihat lebih tenang, bara di bawah sekam masih ada, dan ketidaksepakatan yang mendasar masih harus diatasi.\n\n Prospek masa depan untuk solusi permanen terhadap konflik ini sangat bergantung pada beberapa faktor. Pertama, kemauan politik dari kepemimpinan kedua negara. Jika ada komitmen kuat untuk mencari solusi damai yang saling menguntungkan, maka kemajuan bisa dicapai. Kedua, peran berkesinambungan dari ASEAN dan organisasi internasional lainnya dalam memfasilitasi dialog dan memberikan dukungan teknis untuk proses demarkasi. Tekanan dari komunitas internasional untuk menjaga perdamaian bisa menjadi dorongan penting bagi kedua belah pihak untuk tetap berada di jalur diplomasi. Ketiga, pembentukan mekanisme penyelesaian sengketa yang lebih efektif dan mengikat. Mungkin dibutuhkan pendekatan yang lebih inovatif atau intervensi pihak ketiga yang lebih kuat untuk memecah kebuntuan di beberapa area.\n\nSelain itu, ada harapan bahwa seiring waktu, dengan peningkatan kerjasama ekonomi dan pembangunan di kedua negara, isu perbatasan bisa menjadi kurang dominan. Ketika masyarakat di perbatasan merasakan manfaat ekonomi dari perdamaian dan kerjasama, tekanan untuk menyelesaikan sengketa secara damai akan semakin besar. Proyek-proyek bersama di bidang infrastruktur atau pariwisata yang bisa menguntungkan kedua belah pihak bisa menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan. Namun, perlu diakui bahwa nasionalisme yang kuat di kedua negara masih menjadi faktor yang bisa menghambat. Setiap kali ada isu kecil yang muncul, sentimen nasionalis bisa dengan cepat memanas dan mengganggu proses perdamaian. Jadi, edukasi publik dan upaya untuk membangun pemahaman bersama tentang sejarah dan budaya masing-masing juga penting agar tidak mudah termakan provokasi. Singkatnya, situasi terkini memang lebih tenang, tapi tantangan perdamaian tetap besar. Butuh kerja keras, diplomasi berkelanjutan, dan komitmen kuat dari semua pihak untuk mencapai prospek masa depan yang benar-benar damai dan stabil di perbatasan Thailand-Kamboja.\n\n## Penutup: Menuju Kedamaian Abadi di Perbatasan\n\nNah, guys , kita sudah sampai di penghujung perjalanan kita dalam memahami konflik perbatasan Thailand dan Kamboja . Dari akar sejarah yang dalam dan kompleks, momen-momen eskalasi yang penuh ketegangan, hingga upaya-upaya diplomatik yang tak kenal lelah, serta dampak-dampak yang begitu nyata bagi masyarakat dan stabilitas regional, kita bisa melihat betapa rumitnya isu ini. Ini bukan sekadar berita perang hari ini yang lewat begitu saja, melainkan warisan berabad-abad yang terus membentuk dinamika hubungan dua negara tetangga di Asia Tenggara.\n\nYang jelas, konflik perbatasan ini mengingatkan kita akan pentingnya diplomasi dan dialog dalam menyelesaikan perselisihan antarnegara. Meskipun godaan untuk menggunakan kekuatan mungkin ada, sejarah telah membuktikan bahwa solusi militer hanya akan membawa penderitaan dan kerugian yang lebih besar. Peran komunitas internasional , terutama ASEAN, juga sangat vital dalam mendorong kedua negara untuk tetap berada di jalur damai dan mencari titik temu yang bisa diterima bersama.\n\nMelihat kondisi terkini yang relatif lebih tenang dibandingkan dekade sebelumnya, ada secercah harapan untuk prospek masa depan yang lebih cerah. Namun, tantangan demarkasi perbatasan yang belum tuntas dan potensi munculnya kembali sentimen nasionalisme yang kuat tetap menjadi rintangan yang harus dihadapi. Untuk mencapai kedamaian abadi di perbatasan Thailand-Kamboja, dibutuhkan komitmen politik yang kuat dari kedua belah pihak, kesabaran dalam negosiasi, serta keinginan tulus untuk membangun kepercayaan dan kerjasama yang saling menguntungkan.\n\nMari kita semua berharap bahwa dengan terus-menerus mengedepankan akal sehat, saling menghormati, dan berpegang pada prinsip-prinsip hukum internasional, Thailand dan Kamboja dapat menemukan jalan keluar yang langgeng. Sehingga, perbatasan yang selama ini menjadi sumber ketegangan, bisa berubah menjadi jembatan persahabatan, kerjasama, dan kemakmuran bersama bagi generasi mendatang. Karena pada akhirnya, stabilitas dan perdamaian di kawasan adalah kunci bagi kemajuan dan kesejahteraan semua.